Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Dua Inspirasi Emas #2

@Masjid An-Nur Wonocolo Surabaya

Berniat sholat dhuhur berjamaah. Tanpa sengaja aku bertemu dengan salah seorang teman lama. Dia masih terlihat segar dan rapi seperti awal kami kenalan. Sebelum sholat kami sempat berjabat sambil saling berucap salam dan bertanya kabar.

Selesai sholat dhuhur, aku menghampirinya. Dan kami pun terlibat dalam obrolan yang cukup asik. Kami ngobrol tentang karir kami setelah lulus kuliah. Dulu, aku mengenalnya ketika aku ikut latihan dasar LPBA. Dia kuliah di fakultas adab, berperawakan agak kurus dan tak terlalu tinggi namun penampilannya sederhana.Yang aku kagum adalah setiap kali bertemu dengannya seolah tak pernah sedikitpun ada guratan kesedihan atau keluhan dari aura wajahnya. Itu yang membuatku salut padanya.Dan yang lebih membuatku kagum padanya adalah dia tinggal di musholla selama kuliah di Surabaya, bisa berdikari di “negeri orang.”

Dari obrolan kami, kekagumanku akan sosok dirinya belum berhenti malah semakin bertambah. Ternyata ia sekarang bekerja sebagai tenaga freelance, mendistribusikan buku-buku sekolah. Dan lagi-lagi dia menjadi takmir masjid di salah satu masjid di daerah Ngagel. Naik peringkat sekarang dari dulunya takmir musholla sekarang takmir masjid. Dia bercerita kalau sekarang fasilitas di masjid lebih dari dulu ketika dia masih di musholla, bahkan soal makan pun sudah terjamin. Mungkin itu semua berkat dedikasinya selama 3 tahun mengabdi di musholla semasa kuliah. Subhanallah.

Bahkan dia sekarang telah bisa mencukupi kebutuhannya sendiri meski masih pas-pasan. Dia juga bilang ke aku, “ jangan malu dan jangan gengsi kalau ingin jadi pengusaha sukses.”

Bila dilihat dari semangatnya yang menggelora, menurutku dia sangat cocok menjadi seorang calon pengusaha besar. Mentalitasnya sudah teruji sebagai seorang pengusaha bagi dirinya sendiri.Tinggal menunggu waktu saja tak lama lagi aku yakin dia kan sukses.

Lha sekarang, bagaimana denganmu van?

Masih mau terus berleha-leha, bersantai ria gak melakukan apa-apa. Hidup ini singkat, maka berbuatlah yang terbaik. Aku belajar dari semangat seorang teman yang luar biasa, mengisi masa mudanya dengan aktivitas yang positif dan bisa berdiri atas kaki sendiri. Semangatttt!!!

Senin, 05 November 2012

Dua Inspirasi Emas #1

@Togamas Margorejo Indah

Di salah satu sudut toko buku, tepatnya lantai dua, aku melihat sosok yang menggetarkan hatiku. Sesosok lelaki berwajah tampan berperawakan tak terlalu tinggi agak sedikit kekar. Salah satu ketiaknya, ketiak kanannya mengapit kruk untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, karena sebelah kakinya yakni kaki kanannya putus.Yang berarti dia hanya punya satu kaki.

Subhanallah…

Ketika itu hatiku gerimis, aku malu pada diriku. Gurat semangat tampak di wajah pria itu dan seolah menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang sempurna seperti orang pada umumnya. Bukan fisiknya, namun kesempurnaannya tampak dari semangatnya dalam menyikapi keterbatasan.

Aku malu sekali, aku yang (Alhamdulillah) sampai saat ini masih diberi nikmat tubuh yang lengkap tanpa kurang suatu apapun, terkadang masih sering mengeluh atas kehidupanku. Seharusnya aku bisa lebih semangat dan lebih bias berbuat yang terbaik dalam hidup ini. Justru yang terjadi kebanyakan orang-orang yang berkekurangan semangat juangnya lebih tinggi dari orang normal. 

Aku belajar semangat dari pria itu, belajar makna kehidupan dari dia dan belajar lebih banyak bersyukur. Terima kasih Ya Rabb telah Engkau beri hikmah luar biasa hari ini padaku. Berilah aku ilham untuk selalu mensyukuri segala karunia-MU. Amin.

Selasa, 26 Juni 2012

Hidup Adalah Belajar

Belajar bersyukur meski tak cukup
Belajar Ikhlas meski tak rela
Belajar Taat meski berat
Belajar Memahami meski tak sehati
Belajar Bersabar meski terbebani
Belajar setia meski tergoda
Belajar dan terus belajar…!!!

***
Dari air kita belajar ketenangan
Dari batu kita belajar ketegaran
Dari tanah kita belajar kehidupan
Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri
Dari padi kita belajar rendah hati

***
Melihat ke atas memperoleh semangat
Melihat ke bawah menambah syukur
Melihat ke depan memicu motivasi
Melihat ke samping mengejarkan kebersamaan
Melihat ke belakang sebagai guru terbaik

:: sms from friend on February, 09, 2011 ::

Sabtu, 02 Juni 2012

Mendoakan Orang Lain

Kajian PELITA (Pengajian literasi Satra) yang digagas oleh mbak Sinta Yudisia – penulis yang telah menulis lebih dari 40 buku dan novel terbarunya yang berjudul Rose – sudah berjalan cukup lama. Di antara aktivitas dalam forum ini adalah ngaji plus sharing all about dunia kepenulisan. Dan pada setiap pertemuan dan kajian atau diskusi tak pernah ada hal yang sia-sia, semua penuh gizi plus manfaatnya. Apalagi teman-teman yang pintar bikin suasana jadi tambah seru tiap pertemuan dengan keahlian dan kapasitas masing-masing. Bahkan ada di antaranya telah melahirkan karya serupa Mbak Sinta, yang mengakibatkan teman-teman yang lain termasuk diriku iri (dalam arti positif, ingin meniru jejak langkah) dan ingin bersegera untuk memulai membuat karya. 


Dalam tulisan ini aku gak akan membahas tentang PELITA lebih jauh, bagi sobat blogger yang berminat ya langsung aja join dengan kami, setiap hari sabtu minggu ke 2 dan ke 4. Tempatnya di kediaman mbak Sinta Yudisia. Saling sharing dan tetap memotivasi, itulah suasana forum PELITA. Kalo kalian pada ikut gak bakal rugi deh, gratis lagi. Dapet banyak ilmu n temen-temen baru tentunya. Plus suntikan semangat dari para master literasi.

Ok deh, kembali ke laptop…

Pada waktu kajian PELITA minggu kedua kemarin, aku mendapat inspirasi dari sang tutor mbak Sinta. Yakni satu perbuatan yang kelihatannya mudah untuk dipraktekkan tapi terkadang kita lupa, bahkan tak terpikirkan sama sekali dalam benak kita untuk sekedar melakukannya apalagi merutinkannya. Apaan sih? Kasih tahu gak ya…. (sambil akting lebay.com hehe…). Iya deh aku kasih tahu, apa sih yang gak buat sobat blogger yang sudah bersedia menyempatkan waktunya buat baca blog-ku yang sederhana ini.

Satu perbuatan itu adalah mendoakan orang lain. Ya, mendo’akan orang lain adalah satu perbuatan yang mulia. Pada hakikatnya doa adalah sebuah aktivitas sebagai bentuk penghambaan dan ketaatan kita kepada Allah Swt. Allah menyeru hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya sebagai bentuk dari mengimani akan kebesaran-Nya, karena hanya dengan izin Allah saja segala apa yang diusahakan oleh manusia bisa terwujud. Maka setiap usaha manusia haruslah disertai dan diiringi dengan doa. Di lain sisi, Allah mengancam mereka yang enggan berdoa karena sombong dengan firman-Nya:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. (QS. al-Mu’min: 60)
Akan tetapi, sering di antara kita berdoa setiap selesai beribadah atau setiap saat apalagi di saat-saat menghadapi kesulitan. Namun biasanya kita hanya berdoa untuk diri kita atau keluarga kita saja, jarang kita berdoa juga untuk orang lain entah itu kita mengenal akrab seperti guru, sahabat, tetangga atau teman-teman kita atau yang baru kenal.

Di tengah-tengah diskusi kami para followers PELITA, Mbak Sinta mengambil buku kecil dan bolpen. Untuk apa? Ternyata itu adalah catatan daftar orang-orang yang Mbak Sinta doakan. Kemudian Mbak Sinta tanya kepada followers PELITA minta didoakan apa.

iya bagus juga nih yang dilakukan Mbak Sinta, aku sangat terinspirasi dan pengen praktekin juga. Ini salah satu yang bikin doa kita cepat dikabul. Gimana gak, kan dengan mendoakan orang lain kita tidak hanya menghendaki kebaikan untuk diri kita saja melainkan untuk orang lain pula. Seperti yang kita tahu kan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, meskipun kita tak bisa membantu orang lain dengan raga setidaknya kita masih bisa mendo’akan untuk kebaikannya. Inilah – bagi kita sobat blogger Muslim – yang dinamakan dengan ukhuwah islamiyah. Saling tolong menolong dan saling mendoakan di mana saja berada.

Dengan mendoakan orang lain apalagi sesama Muslim, tiada suatu kerugian atau kesia-siaan pun karenanya, justru merupakan suatu rahmat kemuliaan yang besar bila kita mendoakan orang lain tanpa kehadirannya dan tanpa sepengetahuannya. Mari kita simak hadis Rasul berikut:
Dari shahabiyah ummud Darda, bahawa Rasulullah saw bersabda, yang artinya, “Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir dihadapannya adalah sangat dikabulkan. Disisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, maka malaikat tersebut berkata (kepadanya) : “ Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang sepadan.” (HR. Muslim).
Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj, juga menjelaskan hadits diatas bahwa maknanya adalah tanpa kehadiran orang yang didoakan dihadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang seperti ini benar-benar menunjukkan keikhlasan seorang hamba dalam berdoa.

Sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan, bahwa, jika seorang hamba mendoakan saudaranya dengan tanpa sepengetahuan dan kehadiran saudaranya itu dihadapannya. Maka malaikat berkata, “Amin” (Ya Allah , kabulkanlah). Dan bagimu juga (mendapatkan balasan) yang serupa. Maka malaikat akan mengaminkan atas doamu jika engkau mendoakan bagi saudaramu tanpa sepengetahuan dan kehadirannya.’

Didalam Al-Qur’an , Allah juga memerintahkan hamba beriman untuk selalu mendoakan untuk kebaikan orang lain, sebagaimana firman-Nya:
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) kaum mukminin, baik laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19).
Juga firman-Nya dalam kisah Ibrahim tentang doa Ibrahim,
“Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan segenap orang-orang yang beriman pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41).
Yuk, mulai sekarang sering-sering doain saudara dan teman-teman kita dan segenap kaum mukminin di dunia ini. Agar keberkahan selalu menyertai langkah kita dan segala impian kita segera terwujud. Insya Allah.

Rabu, 28 Desember 2011

Yang Semangat Ya!

Anak lelaki itu tersenyum lebar, aura kebahagiaan terpancar di pagi yang cerah. Ia diantar naik motor ke sekolah oleh ayah dan ibunya beserta adiknya yang masih mungil dalam gendongan sang ibu. Setelah mencium tangan kedua orangtuanya, anak itu segera berlari kecil menuju sekolah tapi sebelum masuk gerbang sekolah sang ayah berteriak lantang kepada anaknya itu “yang semangat ya!”. Tanpa menjawab si anak menoleh dengan senyum lebar penuh semangat seolah memberi isyarat “yes Dad, I’ll keep my spirit!”.

Tak lama berselang kemudian ada seorang ibu muda yang juga mengantar anak perempuannya ke sekolah yang sama. Setelah si anak itu mencium tangan ibunya, sang ibu mengeluarkan uang 2 ribu rupiah kepada si anak tadi sambil berkata: “sayang, jangan lupa ini uangnya dimasukkan kotak infaq ya?” si anak menjawab dengan anggukan mantap di balik wajahnya yang cantik dan lugu.


Subhanallah…

Itulah pemandangan yang sangat menggugah dan inspiratif yang aku lihat. Aku sampai speechless ketika melihat peristiwa penuh menggugah semangat itu, waktu aku sedang membeli sesuatu di daerah Surabaya beberapa hari lalu (18/12/11). Jarang sekali melihat dan mendengar ada orangtua yang memberikan motivasi tinggi dan mengajari anaknya untuk berderma sedari masih belia. Sebaliknya banyak terlihat dan terdengar para orangtua yang lebih sering berucap kata-kata negatif atau justru nada-nada kemarahan yang mengakibatkan terbentuknya karakter pesimistis atau watak yang keras dan kasar. Tak salah bila terkadang banyak anak yang bermental pemalas, dan pesimistis dalam perjalanan tumbuh kembangnya, karena kurangnya dukungan moral dan teladan dari sosok orangtua. Tindakan positif adalah berawal dari kata-kata positif. Bila kata-kata positif selalu dibiasakan sejak dini dan contoh-contoh dalam melakukan hal-hal yang baik diterapkan mengiringi tumbuh kembang anak, maka itu akan bisa membentuk pribadi anak menjadi pribadi yang selalu optimis dan setia pada kebaikan.

Mari kita biasakan kata-kata positif dan kebiasaan-kebiasaan yang positif dalam kehidupan keseharian. Meskipun itu dengan bicara pada diri sendiri untuk memberi semangat, dan seolah rupa hal sepele namun itu bisa menjadi motivasi untuk menjalani aktivitas dengan lebih bersemangat dan penuh rasa optimis. Ada peribahasa populer menyebutkan :

“Watch your thoughts, for they become words. Watch your words, for they become actions. Watch your actions, for they become habits. Watch your habits, for they become character. Watch your character, for they become your destiny.” Perhatikan pikiranmu, itu akan menjadi kata-kata. Perhatikan kata-katamu, itu akan menjadi perbuatan. Perhatikan perbuatanmu, itu akan menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaanmu, itu akan menjadi karakter. Perhatikan karaktermu, itu akan menjadi nasibmu.

Ada kalimat dalam peribahasa itu yang mengingatkan siapapun untuk memperhatikan kata-kata yang diucapnya. Karena bisa jadi itu adalah merupakan pintu untuk melakukan sebuah tindakan yang apakah itu baik atau buruk tergantung pula dari baik dan buruknya kata-kata yang diucapkan. Jangan sampai kata-kata buruk menjadi kebiasaan dan setelah terbiasa akan menjadi karakter dan selanjutnya bisa jadi itu berujung pada baik atau buruknya nasib.

So, mari biasakan untuk bertutur kata yang baik-baik dan positif agar kehidupan ini diliputi dengan aura positif, semangat dan optimis. berhati-hatilah dalam berucap baik itu orang tua pada anak, anak pada orang tua, kakak pada adik dan adik pada kakak, guru pada murid dan murid pada guru, pada saudara atau kerabat, pada tetangga, pada sahabat dan teman-teman.

Berhati-hatilah dalam berucap! Karena dari ucapan bisa timbul efek yang tak sesederhana yang dibayangkan. Dari ucapan bisa membuat orang menjadi semangat bisa pula menjadikan orang itu pemalas, dari ucapan bisa membuat orang menjadi hebat dan bisa pula sakit hati, dari ucapan bisa membuat orang mulia dan bisa pula menjadi hina.

Ingat! KITA tidak bisa memotivasi DIRI SENDIRI ke arah yang POSITIF dengan terus menerus menggunakan kata-kata NEGATIF.

Jumat, 09 Desember 2011

Semangat Si Penjual Tiwul

Hari ini (06/12/11) aku sempat nonton acara TV jika aku menjadi yang tayang di trans TV. Yang aku tahu acara itu tayang tiap hari. Yang menarik adalah acara tersebut menyoroti kehidupan orang-orang yang tak mampu, yang serba kekurangan, miskin dan kadang ada juga yang cacat. Dan seorang relawan cewek yang memang mendaftar ikut dalam acara itu, menjadi subjek untuk mengikuti kehidupan seseorang di daerah tertentu dalam beberapa hari. Mencoba merasakan bagaimana rasanya jika ia menjadi seperti seseorang yang hidup dalam keadaan serba kekurangan.


Dalam tayangan yang kulihat hari ini, sangat inspiratif dan menggugah. Sesosok ibu yang telah janda selama 20 tahun memiliki seorang anak lelaki dan ibunya alias nenek dari anaknya itu. Pekerjaan kesehariannya adalah membuat tiwul (semacam makanan dari olahan singkong). Yang bikin haru adalah ketika ibu itu jalan ternyata kakinya gak bisa lurus, jalannya bengkok. Subhanallah. Yang bikin miris adalah upah yang didapat dari kerjanya bikin tiwul tidak sepadan dengan kerja kerasnya, dari tayangan yang kulhat itu ternyata bikin tiwul cukup menguras tenaga. Harga tiwul per kilonya adalah 6 ribu, tapi itupun harus dibagi sama yang punya singkong. Jadi, sekali bikin tiwul 5 kg selama 5 hari dapatnya 30 ribu dibagi dua jadi 15 ribu. Pendapatan si ibu itu rata-rata hanya 3 ribu rupiah sehari. 

Masya Allah. Bisa dibayangkan betapa susahnya untuk dapat beberapa ribu saja untuk tetap bertahan hidup dan lagi membiayai sekolah anak tunggalnya. Salut untuk si ibu tersebut karena dia seolah gak pernah ngeluh dan anti minta-minta meskipun hidup dalam kekurangan baik fisik maupun materi. Dari kehidupan si ibu itu menjadi sebuah pelajaran berharga bagiku. Betapa besar karunia Allah, anugerahnya yang berupa kenikmatan materi, fisik yang sempurna dan kesehatan yang masih aku rasa hingga kini. Tapi, masih sering ku dapati diri ini mengeluh, kurang bersyukur. Dan lebih dari itu aku masih juga sering menggunakan nikmat usia dan kelapangan yang dianugerahkan-Nya kepadaku, untuk berbuat maksiat dan belum bisa kupergunakan dengan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bermanfaat. Astaghfirullah.

Kebetulan di saat yang sama ayahku juga sempat lihat tayangan itu. Kemudian ayahku bercerita bahwa di depan sekolah tempat ayah mengajar, ada seorang nenek yang hampir tiap hari mencari (mulung) botol/gelas air mineral bekas. Ketika ayah bertanya tentang penghasilannya pun ia menjawab tidak menentu terkadang hanya memperoleh 5 hingga 10 ribu rupiah saja per hari. Karena kasihan melihat nenek itu maka terkadang ayahku memberikan santunan uang dan juga zakat. 

Ayahku kemudian mengkritisi sikap pemerintah yang seolah acuh terhadap keadaan kaum-kaum miskin yang sama sekali belum tersentuh bantuan. Mayoritas para elite hanya mengutamakan kepentingan dan kepuasan diri pribadi. Para wakil rakyat hanya sibuk mengurusi isi kantongnya sendiri tanpa menghiraukan keadaan rakyat yang diwakilinya. Acara TV seperti yang ditayangkan di salah satu stasiun TV itu seharusnya menggugah jiwa para elite untuk segera bangun dari tidur panjangnya, untuk sadar dari “mabuk” dunianya. Untuk bersegera membantu warga yang kurang mampu di berbagai pelosok nusantara. Namun sayangnya, itu tidak terjadi, tayangan TV hanya sekedar hiburan semata. Memang mungkin juga masih ada para elite yang tersentuh dengan melihat tayangan inspiratif itu, namun sekali lagi hanya menjadi sekedar tayangan belaka tanpa dibarengi tindakan nyata. Sebagai bukti angka kemiskinan masih sangat besar di negeri ini. Tapi tetap doakan saja agar suatu saat para elite yang masih melenceng dari jalurnya segera kembali ke jalan yang benar, dan bisa berkontribusi dalam membangun bangsa yang berdaya dan bermartabat.

Memang, kita tidak bisa hanya berharap pada para pemimpin negeri ini untuk membantu sesama. Yang bisa kita lakukan adalah dengan memulai dari diri untuk lebih meningkatkan semangat kepedulian sosial serta memperhatikan keadaan sesama dan saling membantu, khusunya kepada golongan yang tak mampu.

Dari tayangan TV dan cerita dari ayah tentang orang-orang yang hidup dalam garis serba kekurangan namun tetap memiliki semangat membara. Aku belajar bagaimana orang yang serba kurang saja bisa tetap semangat menjalani hidup, harusnya aku yang hidup dalam keadaan yang lebih baik tentunya lebih bisa berbuat lebih untuk kemanfaatan sesama. Semoga aku bisa melakukan yang terbaik.

Jumat, 14 Oktober 2011

Bermimpi Ala Kiswanti

Siapa sangka sebuah mimpi kecil seorang ibu rumah tangga sederhana melahirkan hasil yang besar dan tak terduga. Ialah Kiswanti, sosok seorang ibu rumah tangga yang punya semangat luar biasa dalam memperjuangkan satu impian kecilnya, yaitu mengkampanyekan budaya baca. Seorang ibu yang memiliki impian kecil pada mulanya namun menghasilkan sesuatu yang besar di kemudian hari. 

Beberapa waktu yang lalu salah satu stasiun TV swasta, yang saya lupa apa nama stasiun TV itu yang jelas ada logo B berwarna biru, nama programnya Sang Juara, kembali menayangkan profilnya. Setelah sebelumnya pernah juga ditayangkan oleh metro TV. Saya coba melakukan pencarian di google tentang Kiswanti, dan sudah cukup banyak situs atau blog yang mengungkap tentang profil seorang Kiswanti.

Pada masa kecilnya, perempuan kelahiran Yogyakarta, 4 Desember 1962, ini menjalani kehidupan yang berbeda dengan anak-anak seusianya di Desa Ngipian, Jetis, Bantul. Kemiskinan membuatnya tak bisa mengenyam bangku pendidikan formal lebih tinggi. Ayahnya, Trisno Suwarno, seorang tukang becak. Ibunya, Tumirah, penjual jamu gendong.

Meski hanya lulus SD keinginan yang besar Kiswanti untuk terus membaca dan mengumpulkan buku tidak pernah surut. Sambil bekerja membantu orangtuanya sedikit demi sedikit uang dikumpulkan untuk membeli buku.

Tidak bersekolah ia imbangi dengan banyak membaca. Ia mengumpulkan beragam buku bekas, pembelian orangtuanya di pasar loak. Ribuan judul buku telah berhasil dikumpulkannya di rumah sejak dia muda. Kebiasaan itu terus berlanjut ketika dia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta, di rumah warga negara Filipina. Di situ pun Kiswanti meminta agar gajinya sebesar Rp40.000 per bulan dibayarkan dengan buku.

Kiswanti yang memiliki motto "Kemiskinan Bukan Halangan Untuk Cerdas", yang juga tertempel di antara ribuan buku yang tersusun rapi di rak yang menempel di dinding di rumah kecilnya. Tak hanya mengoleksi buku untuk taman baca yang ia namakan "Warabal" atau Warung Baca Lebak Wangi, di ruang depan rumahnya terlihat tujuh unit komputer ditaruh berjajar di meja rendah siap digunakan anak-anak yang mengikuti kursus komputer pada sore hari.

Itu menunjukkan satu semangat dan dedikasi seorang ibu yang sangat sederhana untuk ikut membangun kecerdasan bangsa. Ia memiliki motivasi yang besar untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat di lingkungannya terutama anak-anak. Tidak menunggu hingga menjadi kaya dulu dalam membangun mimpinya menjadikan masyarakat sekitarnya melek baca dan cinta buku, namun ia langsung terjun sendiri meski fasilitas belumlah lengkap.

Dalam wawancara oleh salah satu stasiun TV swasta, Kiswanti mengungkapkan bahwa dirinya dalam upaya mewujudkan mimpinya, bisa dibilang tak mudah. Karena masyarakat belumlah tergugah dengan budaya baca. Dan banyak yang hanya memandang sebelah mata atas usahanya menyebarkan “virus” gemar membaca.


Sebelum ia menjadikan rumahnya sebagai perpustakaan atau rumah baca, ia yang datang kepada orang-orang sekitar dengan membawa beberapa buku koleksinya. pernah juga ketika ia menjadi penjual jamu, ketika menawarkan jamunya ia juga membawa beberapa buku bacaan untuk anak-anak dan umum. Dan yang menarik adalah teriakannya waktu ia menjajakan jamu diselingi dengan slogan yang unik.

Jamu-jamu…
Buku-buku…

Siapa yang ingin sehat minum jamu…
Siapa yang ingin pintar baca buku…

Itulah kalimat yang ia ucapkan setiap kali keliling menjajakan jamu. Sungguh luar biasa sosok yang sangat sederhana dan meski tidak tumbuh dalam ruang lingkup akademis, namun semangatnya bisa jadi lebih besar daripada mereka yang mengaku akademisi. Kita yang mungkin memilki kondisi ekonomi yang lebih baik, berpendidikan lebih baik, sudahkah ada amal nyata kita yang memberikan manfaat bagi sesama?

Kegiatan Kiswanti terdengar Depdiknas. Dan akhirnya ia mendapat bantuan sebesar sepuluh juta yang ia pergunakan untuk membeli rak buku dan HR bagi tetangga yang membantu. Hingga saat ini koleksi Warabalnya sudah mencapai sekitar 2450 buku, Subhanallah, luar biasa.

Dari seorang Kiswanti kita bisa belajar bahwa betapa mimpi yang kelihatannya kecil, sederhana, remeh, namun dengan semangat tinggi untuk mewujudkannya ditambah dengan niat baik kepada sesama akan bisa terwujud dengan indah. Dan bahkan bisa memberikan rasa puas dan kebahagiaan yang tiada bisa dibandingkan dengan kadar materi sebesar dan sebanyak apapun.

Mari kita mulai membangun mimpi-mimpi kita, meskipun itu kelihatannya sederhana atau mungkin serasa tak mungkin terwujud. Namun lihatlah sekitar kita betapa banyak orang yang dalam keterbatasannya bisa meraih apa yang diinginkan, karena yakin bahwa Tuhan Maha Mendengar dan Maha Pengabul Do’a. Meminjam istilah AA Gim yang sempat popular, yakni 3 M. mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai sekarang juga.

So, mari bersegera…!!!

Jumat, 16 September 2011

Wisata Buku

Kemarin ketika aku pergi ke Surabaya untuk menyelesaikan beberapa urusan, aku menyempatkan diri untuk mampir di salah satu toko buku di kawasan Margorejo Indah. Aku sangat antusias setiap kali berkunjung ke toko buku. Aku senang sekali bisa kembali mencium aroma buku yang menggiurkan dan memaksaku untuk selalu ingin membeli dan memiliki setiap buku-buku yang terpajang rapi di rak toko buku. Bahkan terbesit keinginan suatu saat bisa mempunyai toko buku sendiri. Sejauh mata memandang yang semuanya adalah buku yang menarik membuatku betah berlama-lama di toko buku.

Aku bersyukur akhir-akhir ini minat bacaku meningkat karena sebelumnya aku amat jarang bahkan malas sekali untuk sekadar membaca koran atau majalah sekalipun. Hanya bila akan datang waktu ujian saja aku sempatkan kembali membuka buku-buku pelajaran, dengan sedikit terpaksa karena diobrak ortu hehe… Tapi itu dulu, sekarang aku sadar bahwa dengan membaca bisa membuka wawasan yang lebih luas, dan pengetahuan baru yang selama ini belum pernah ku dapatkan di bangku sekolah. Dengan membaca pula seakan bisa menjelajah dunia, menyelami pemikiran para ulama dan ilmuwan seluruh dunia dengan hanya duduk manis dtemani teh manis.

Kembali ke toko buku, ada pemandangan menarik di saat aku sedang asik melihat dan membaca beberapa tumpukan buku baru dan juga buku-buku best seller. Adalah seorang ayah ditemani tiga orang anaknya, satu dua perempuan dan satu laki-laki. Anak perempuan yang satu seumuran SMA dan satu lagi masih kecil dan imut-imut seumuran TK, dan yang laki-laki seumuran anak SD. Aku melihat mereka sangat menikmati sajian tumpukan buku yang terpajang rapi di atas rak bertingkat.

Sesekali dari mereka ada yang bertanya pada ayahnya setiap kali mendapati buku yang menarik perhatiannya.

      "Yah, adik mau beli ini ya? Ini bagus lho, tentang science? Tapi harganya agak mahal sih…"
      Ujar salah satu dari tiga anak itu.

Dengan bijak ayahnya menanggapi,

      "Coba sini ayah lihat dulu apa memang cocok buat kamu, kalau memang bagus gak apa-apa 
       ayah belikan." Jawab si ayah.

Aku sangat menikmati pemandangan menarik itu. Aku pun memutuskan membeli dua buku yang menarik bagiku. Yang lebih menarik lagi adalah pada saat aku antri untuk membayar buku di bagian kasir, yang berbarengan di depanku ada ayah dan tiga anak tadi. Aku lihat tumpukan buku yang dibeli oleh mereka. Subhanallah, banyak banget buku yang mereka beli. Sungguh merupakan semangat keluarga yang mendambakan masa depan yang cemerlang.

Apa yang dilakukan oleh seorang ayah itu di era sekarang ini mulai jarang terlihat. Sangat sedikit yang memilih mengisi waktu luang atau momen liburan dengan mengunjungi toko buku atau berwisata buku. Bila ada waktu senggang atau momen liburan mayoritas para keluarga memilih untuk menghabiskan waktunya dengan pergi ke tempat wisata atau ke mall. Apalagi kemudian punya keinginan untuk menyisihkan budget tersendiri untuk membeli buku, mungkin tak pernah terpikirkan.

Kegiatan wisata buku atau berkunjung ke pusat-pusat penjualan buku sekarang ini seakan makin sepi peminat, kecuali bagi kalangan yang hobi membaca atau bisa disebut kutu buku. Bahkan saat ini kaum pelajar sekalipun yang lazimnya bersahabat erat dengan buku pun juga mengalami degradasi minat terhadap buku. Padahal buku merupakan salah satu “vitamin” yang amat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Dan apa yang ku lihat di toko buku itu ialah sebuah momen yang sangat inspiratif dalam menggugah kembali semangat cinta buku, semangat baca dan semangat menuntut ilmu.

Wisata buku pun bisa menjadi semacam penyegaran otak di tengah padatnya aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu beragam manfaat bisa didapatkan lewat aktivitas membaca buku, khususnya dalam memperluas khazanah kelimuan dan membangun kerangka berpikir yang lebih bijak. Buku, yang sangat erat kaitannya dengan aktivitas membaca sudah seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.


Bila kita melihat kembali ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Meskipun dalam hal ini makna membaca adalah sangat luas, dengan kata lain membaca tidak hanya membaca buku. Kehidupan ini pun ibarat buku yang terhampar luas sebagai sarana manusia untuk terus mempergunakan akalnya menyelami kebesaran Sang Maha Pencipta. Namun tetaplah makna membaca adalah erat kaitannya dengan buku atau membaca buku.

Ironisnya, saat ini banyak orang tua yang ingin anaknya pandai, suka belajar dan mencintai buku. Padahal orang tua itu sendiri tak pernah bersentuhan dengan yang namanya buku, jangankan mengajak untuk wisata buku bersama, membaca buku saja enggan. Ini yang aku ketahui sendiri ketika aku bermain ke rumah beberapa teman. Jarang sekali terlihat rak khusus untuk buku, yang banyak adalah aksesoris keindahan rumah. Bila demikian, bagaimana mungkin berharap anaknya akan suka belajar, cinta buku dan pandai?

Alhamdulillah, meskipun aku dilahirkan bukan dari keluarga yang hobi baca, mungkin hanya ayahku yang memliki hobi baca yang cukup tinggi. Anggota keluarga yang lain sekedar suka membaca artikel ringan yang ada di tabloid atau majalah saja. Namun paling tidak, semua anggota keluarga selalu mendukung hobiku membaca serta keinginanku untuk mempunyai perpustakaan pribadi dengan mengoleksi berbagai jenis buku. Aku ingin suatu saat keinginanku memiliki perpustakaan pribadi bisa terwujud, bahkan aku juga punya impian mendirikan “Kampoeng Baca” di kampung kelahiranku. Sehingga masyarakat di desaku akan semakin melek baca dan makin cinta buku dan makin rajin ber-wisata buku. Dengan begitu “wabah” kebodohan di desaku bisa berkurang bahkan hilang sama sekali.

Sungguh indah bila tiap keluarga di negeri ini punya agenda rutin untuk berwisata buku, terlebih menyediakan budget khusus untuk membeli buku. Ditambah lagi dengan menggiatkan aktivitas membaca buku. Dengan demikian, kebodohan akan benar-benar hilang dari kehidupan negeri ini.

Mari budayakan baca, budayakan cinta buku. Mari ber-WISATA BUKU

Sabtu, 04 Desember 2010

Investasi Kebaikan

Kemarin malem pas ’nongkrong’ depan layar komputer tiba-tiba aku teringat satu kisah yang pernah aku baca dari sebuah majalah yang sangat inspiratif, sekalian aku share aja deh ke temen-temen, ceritanya tentang seorang tukang becak, pak Kasan namanya, asal Klaten Jawa Tengah. Sabtu malam minggu sering dianggap hari spesial oleh banyak orang, terutama orang kota, tetapi tidak bagi pak Kasan. Ia memilih hari jum’at sebagai hari spesial bukan malam minggu seperti kebanyakan orang.

Jika banyak orang mengisi malam minggu dengan begadang atau bersenang-senang, maka pak Kasan mengisi hari spesialnya, hari jum’at, dengan melakukan amalan yang spesial pula. Pada tiap jum’at dia bertekad harus memberi lebih banyak kepada orang lain daripada hari biasa. Tapi pak Kasan ’hanya’ tukang becak yang tidak punya banyak uang. Apa yang bisa dilakukan? Pak Kasan lalu memutuskan setiap hari jum’at semua penumpangnya digratiskan. Itulah kebaikan yang bisa ia berikan. Itulah sedekahnya, ia sedekahkan upah satu hari penuh khusus hari jum’at.
Bu marto, seorang konglomerat, suatu hari naik becaknya pak Kasan tanpa menawar. Kebetulan hari itu hari jum’at. Setelah sampai tujuan, bu Marto bertanya:

”Berapa ongkosnya pak?”
 
"maaf bu, bukannya saya menolak uang ibu, tetapi saya bertekad untuk bersedekah dengan menggratiskan semua penumpang saya pada hari jum’at. Kebetulan hari ini hari jum’at, jadi ibu tidak perlu membayar ongkos becak saya,” kata pak kasan dengan sopan.

Lalu dia mengayuh becaknya pergi tanpa menunggu jawaban balik bu Marto. Tinggallah bu Marto sendiri, berdiri, sambil termangu. Dia merasa dijewer karena selama ini sangat jarang bersedekah. Tetapi dia tidak percaya begitu saja. Dia ingin menguji ketulusan tukang becak itu di kemudian hari.

Maka pada hari lain, bu Marto sengaja menumpang becak pak kasan pada hari jum’at. Kali ini dia pilih tujuan yang lebih jauh dari pada jumat yang dulu. Ternyata pak Kasan tidak berubah. Hari itu bu Marto digratiskan membayar ongkos becaknya karena hari jumat. Bu Marto kini yakin bahwa kebaikan pak Kasan pada hari jumat bukan pura-pura.

Akhirnya bu Marto minta diantar ke rumah pak Kasan, ia ingin melihat dari dekat keluarga pak Kasan. Maka dengan senang hati tukang becak yang tulus itu mengantarkan bu Marto menuju rumahnya. Di sana bu Marto menyaksikan rumah pak Kasan sangat sederhana, istrinya berjilbab menutup aurat tubuhnya dan dua orang anak manis yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

”saya merasa malu kepada Bapak,” kata bu Marto. ”Bapak orang yang luar biasa. Bapak hidup sederhana, cenderung kekurangan tetapi tidak pernah meninggalkan sedekah. Sedangkan saya yang berkecukupan, bahkan berlebih, tetapi tidak bersedekah,” katanya. Singkat cerita, akhirnya bu Marto ingin mengajak pak Kasan beserta isterinya naik haji bersama. (Muhsin Suny, menjadi kaya dengan sedekah: 2008)



***

Subhanallah....

Dari cerita itu paling nggak ada 3(tiga) entri poin yang bisa dijadikan pelajaran:
Pertama, sikap pak Kasan tersebut adalah merupakan cerminan sikap diri untuk bermanfaat bagi orang lain, dan itu dibuktikan di setiap hari jum’at dengan tindakan ”melayani” penumpangnya tanpa imbalan sepeserpun dan orientasinya bukanlah materi akan tetapi ridho Allah Swt dan berharap imbalan hanya dari-Nya. Akhirnya terbukti keinginan beliau bersama isteri untuk pergi haji terpenuhi, itu baru balasan di dunia belum di akhirat kelak, bahkan mungkin Allah akan memberi keajaiban-keajaiban yang lain yang tak terduga. Khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia).

Kedua, pak Kasan mengajarkan kepada kita tentang kesungguhan. Hari jum’at dijadikan alat pembangkit kebaikan. Pak Kasan juga mengajarkan sikap istiqamah. Apa yang telah dia putuskan, dia jalani dengan penuh istiqamah, tidak kendur. Khairul amali adwamuha wain qalla, (sebaik-baik amal ialah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit). Hanya kesungguhan yang membuat orang bisa istiqamah dan berkelanjutan.

Ketiga, pak Kasan mengajarkan kepada kita tentang investasi kebaikan. Semua yang kita miliki sesungguhnya bisa kita jadikan pengungkit kebaikan. Pak Kasan punya becak dan dengan becaknya itu dia jadikan pengungkit kebaikan. Sesungguhnya semua amal kebaikan yang kita lakukan adalah merupakan investasi atau modal awal menuju kebahagiaan baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Dan kita yang merasa punya mobil, sepeda motor, tabungan, jabatan, ilmu, keterampilan dan masih banyak lagi. Lalu manakah dari milik kita yang banyak itu kita jadikan alat pengungkit kebaikan kita?

Tsumma latus-alunna yauma idzin anin na’iim (kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang semua kenikmatan).

*20 April 2010 jam 23:55